BE KING
BAB 1. Pertemuan Pertama
Bukankah pertemuan ini terlalu singkat?
Ataukah aku yang terlalu mendambakan pertemuan tanpa perpisahan?
HANNA
POV
“Ini dimana, bukan kah aku sudah melewati jalan
ini?” Tanyaku kepada diri sendiri. Aku tersesat di sebuah hutan yang tak
kuketahui namanya. Sebelumnya aku mencoba melarikan diri dari dua penjaga yang
ingin mengantarkan ku pulang ke kediaman ayahku. Saat itu mobil yang kami kendarai sedang
mogok lantas aku langsung keluar mobil dan melarikan diri. Ayahku adalah seorang
yang kejam, dia mendidik ku dengan keras agar aku dapat memenuhi keinginannya,
sebenarnya aku tidak menentang perintah ayah toh itu juga untuk kebaikan diriku
sendiri tapi ada kalanya aku ingin bebas, aku ingin merasakan dunia diluar perintah
ayah.
Di kerajaan
ini ada 3 kasta yang sangat berpengaruh dan dihormati yaitu kasta Raja, bangsawan,
dan ksatria serta satu kasta lagi yaitu kasta pedagang yang tidak diakui di
kerajaan ini karena menurut para bangsawan pedagang bukanlah orang yang pantas
untuk dihormati. Aku adalah keturunan kasta ksatria yang merupakan penerus
organisasi ksatria yang dibentuk oleh ayahku itulah alasan kenapa ayahku
mendidikku sangat keras.
Melupakan
tentang hal itu, aku sangat menyesal kabur dari dua penjaga itu kalau tahu
akhirnya aku akan tersesat aku tidak akan melupakannya. Aku terus berjalan
tanpa lelah guna mencari jalan keluar dari hutan tersebut. Tapi hasilnya
sia-sia aku lelah, kupeluk tubuhku dan menangis, semakin lama tangisanku
semakin keras, jujur aku adalah seorang penakut. Lalu Senja pun tiba dan aku
masih menangis tapi tiba tiba aku melihat seseorang yang bersembunyi di
belakang pohon.
“Permisi
tuan, tolong aku” Kataku masih duduk, lalu seseorang itu memperlihatkan
wajahnya, ternyata dia adalah seorang laki-laki yang kelihatannya usianya
hampir sama dengan ku
“A...Apa kau
manusia?”
Laki-laki
itu tak menjawab dan ia semakin lama semakin mendekat kearahku sampai aku
terpojok karena dibelakangku adalah pohon
“Apa yang
kau lakukan! Jangan makan aku” Teriakku sambil menutup muka
“Dasar
bodoh” Kata laki-laki itu sambil menepuk jidatku
“Ikutlah
denganku” Ajak laki-laki itu sambil memegang tanganku, aku tak memberontak aku
merasa nyaman saat dia memegang tanganku
Setelah
berjalan kaki agak lama akhirnya kami sampai disebuah rumah kecil dan ternyata
itu adalah rumah laki-laki ini, yang menjadi pertanyaan adalah apakah dia
tinggal sendirian dihutan menakutkan ini?
Apakah dia manusia?
“Aku sudah
selesai mandi” Kataku kepadanya, setelah sampai dirumahnya dia langsung
menyuruhku mandi.
“Ikutlah
denganku”
“Kemana?”
Tanyaku padanya dan dia tak menjawabnya.
Ternyata dia
mengajakku kebelakang rumahnya untuk melihat sunset, wah indah sekali. Tak ku
sangka ada laki-laki yang mengajakku melihat pemandangan indah seperti ini, ini
adalah pertama kalinya dan sangat menyenangkan. Pada akhirnya kami pun duduk
berdua dan menikmati keindahan ini
“Se...sebenarnya
ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu” Kataku lirih
“Katakanlah”
“Ano...
Sebenarnya kamu siapa? Apakah kamu manusia? Kamu tinggal sendirian? Kenapa kamu
sangat berani? Apakah tidak takut?” Pertanyaanku seperti bom yang meledak lewat
mulutku, aku melihat laki-laki itu sampai kaget karena mendengar pertanyaanku
yang banyak sekali
“Huft... tentu saja aku adalah manusia,
seperti yang kamu tahu aku tinggal sendirian dan untuk apa aku harus takut”
“Apa kau dan
orang tuamu sejak dulu tinggal di hutan seperti Tarzan Family?” Tanyaku lagi. Sebelum menjawab ia sempat menatapku
sejenak lalu membaringkan tubuhnya dan menatap langit senja
“Saat aku
berusia sepuluh tahun ibuku membiusku lalu membuangku ke hutan”
Katanya singkat
membuatku kaget, bagaimana bisa seorang ibu membuang anaknya? Ah….Tapi
bukankah aku juga hampir sama dengannya? Saat aku kecil orang tuaku membuangku
tapi beruntungnya aku saat itu karena tidak lama kemudian orang tua angkatku
datang dan membawa ku pulang serta dengan sabar merawatku. Tapi laki-laki ini
harus merawat dirinya sendiri dan hidup di hutan yang mengerikan ini, bagaimana
jika dia digigit binatang buas?
“Kenapa kau
melamun?” katanya sambil memegang pundakku
“Ah... Tidak
apa-apa”
“Bagaimana denganmu?”
tanyanya
“Ah...
Namaku Hanna Lim, kau boleh memanggilku Hanna, umurku 18 tahun, aku pandai
dalam hal pelajaran dan ilmu bela diri. Dulu aku juga sama sepertimu, saat aku
bayi orang tua ku membuangku, aku tak tahu alasan mereka apa, tapi aku
sangat bersyukur tidak lama kemudian orang tua angkatku menemukan ku lalu
membawa ku pulang kerumah mereka dan merawatku hingga sebesar ini. tapi enam
bulan yang lalu orang tua kandungku menemukanku dan membawa ku pulang. Ayahku
sangat keras tapi ibu ku sangat penyayang” Jelasku panjang lebar
“Bukankah
cukup menyenangkan hidup sepertimu, memiliki dua ayah dan dua ibu” Tanyanya
sambil tersenyum kecut, senyumnya menandakan kekecewaan dan kesedihan
“Tuhan
membuat takdir seseorang berbeda beda dan yang kita lakukan hanyalah menerima
dan menjalankan apa yang sudah ditakdirkan untuk kita. Jika kita dengan baik
menjalankan takdirnya mungkin Tuhan akan mengabulkan keinginan kita” Kataku
sambil tersenyum menatapnya
“Tapi tuan,
siapa namamu?” tanyaku penasaran
“Namaku Gin”
katanya singkat
“Oh”
“Ayo kita
kembali, malam ini tinggal lah dirumahku besok pagi aku akan mengantarmu
pulang” Katanya sambil berjalan pergi
“Terima
kasih” Susulku
*****
Pagi pun
tiba, Gin menemaniku menyusuri hutan untuk membawaku keluar dari hutan
tersebut. Lama kami berjalan tapi tiba-tiba Gin berhenti
“Kita sudah
keluar dari hutan, sekarang kau hanya lurus mengikuti jalan lalu kau akan
menemukan jalan raya” Terangnya
“Apa kau
tidak ingin menemaniku setidaknya sampai jalan raya?” Tanyaku sambil menatapnya
“Aku tidak
mungkin meninggalkan hutan ini” Jawabnya singkat. Aku tidak tahu apa yang
dipikirkan oleh Gin kenapa dia tidak keluar dari hutan tersebut, tapi apa boleh
buat itu adalah urusan Gin untuk apa aku ikut campur
Entah kenapa
sangat berat meninggalkan Gin. Sebenarnya Gin adalah seorang pemuda yang tampan
dan baik, hanya satu hari tinggal bersamanya saja entah kenapa aku mulai
tertarik padanya. Ah... apa yang ku pikirkan ini benar-benar lucu.
“Baiklah
Gin, terima kasih sudah menolongku dan memberiku bantuan aku tidak akan
melupakannya. Suatu saat nanti aku akan berkunjung, sampai jumpa” Kataku
tersenyum tulus dan pergi meninggalkannya.
****
Komentar
Posting Komentar